Bagaimana ciri anak yang hiperaktif?

Anak-anak identik dengan tingkah laku yang ceria dan aktif. Seringkali kita menjumpai anak yang terlihat sangat aktif dan bersemangat, seakan energi yang dimilikinya tiada habis-habisnya. Tingkah laku anak yang sangat aktif ini sebenarnya sangat wajar, karena masa kanak-kanak memang merupakan masa seseorang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dengan berbagai macam aktivitas gerak.

Diantara tingkah laku anak pada umumnya, memang ada anak-anak yang aktivitas geraknya berlebihan dari biasanya. Anak-anak ini biasanya juga tampak sulit diatur atau diberi tahu oleh orang tuanya untuk bersikap lebih tenang. Terkadang, orang tua menjadi sangat cemas dan mulai berpikir apakah anaknya termasuk anak yang hiperaktif. Bahkan beberapa orang sudah langsung memberi vonis ketika melihat anak yang aktif dan tidak bisa diam.

Walaupun begitu, kita tidak bisa langsung menyatakan bahwa anak yang berperilaku seperti itu adalah anak yang hiperaktif, karena masih banyak ciri anak hiperaktif yang perlu diamati dan ditelaah lebih jauh untuk menentukannya.

Ciri ciri Anak Hiperaktif

Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan perilaku yang penyebabnya berasal dari perkembangan otak yang tidak normal. Juga dikenal dengan sebutan ‘Attention Deficit Hyperactivity Disorder’ atau ADHD, ciri-ciri yang biasa tampak pada perilakunya sehari-hari yaitu:

  1. Sulit untuk fokus atau memusatkan pikiran selama lebih dari lima menit, mudah sekali bosan sehingga anak jarang menyelesaikan pekerjaannya. Cepat sekali berganti atau beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
  2. Sulit untuk dikendalikan dan selalu melawan atau berontak ketika disuruh untuk bersikap sedikit tenang. Ia lebih suka beraktivitas sesuka hatinya saja.
  3. Ketika bermain, anak hiperaktif cenderung akan merusak mainannya sendiri.
  4. Anak tidak mudah lelah dan semua aktivitasnya tampak tidak memiliki tujuan, sulit tidur dan jarang mengantuk.
  5. Sikapnya cenderung agresif, baik kepada teman seusianya maupun ketika sedang bermain sendiri. Contohnya, ia bisa tiba-tiba memukul temannya tanpa sebab, dan beberapa serangan fisik lainnya.
  6. Anak hiperaktif juga tidak sabaran, suasana hatinya labil dan sulit mengontrol diri, misalnya suka merebut mainan anak lain.
  7. Terkadang perkembangan bahasa dan motoriknya juga terlambat. Hal ini disebabkan karena pada umumnya anak hiperaktif memiliki intelegensi yang rendah, walaupun tidak semua anak hiperaktif demikian.
  8. Tidak bisa mengontrol gerakannya. Contoh, jika duduk ia tidak bisa tenang, selalu bergerak dan bergoyang-goyang, selalu melompat pada waktu yang tidak tepat, memanjat atau berguling bukan di tempatnya.
  9. Beberapa anak ada yang banyak bicara dan sulit diam, bersuara keras setiap bicara, selalu menyerobot pembicaraan orang dan tidak bisa menunggu orang lain selesai bicara.
  10. Kurang kreatif karena sulit fokus.
  11. Impulsif, yaitu tidak pernah berpikir panjang ketika melakukan sesuatu, sulit menahan dorongan hatinya untuk langsung bertindak jika memiliki suatu ide, dan tidak mengenal konsep bahaya.
  12. Tidak suka berteman, tidak suka bermain atau lebih cenderung bermain sendiri.
  13. Lebih mudah frustasi. Karena kurang kreativitas dan tidak sabar, jika tidak bisa atau belum selesai mengerjakan sesuatu, anak hiperaktif mudah kesal dan marah..

Menangani Anak Hiperaktif

Dengan perilakunya yang sulit untuk bisa tenang, anak hiperaktif kerap kali mengalami kesulitan untuk melakukan hal-hal yang sederhana, seperti melakukan pekerjaan rumah, bergaul, atau ketika memasuki lingkungan baru. Karena sulitnya mereka berkonsentrasi, maka pemberian tugas yang diulang akan mempermudah mereka. Meskipun belum ada metode yang baku tentang bagaimana menangani anak yang hiperaktif, akan tetapi beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

  1. Tentukan Aturan yang Jelas

Jika Anda termasuk orang tua yang menunjukkan gaya pengasuhan anak yang santai, hal ini memang tidak menjadi masalah pada sebagian besar anak. Anak dengan perilaku hiperaktif akan semakin menunjukkan ketidak teraturannya dan bermasalah ketika ia tidak diberi aturan yang jelas. Karena itulah sebaiknya tetapkan aturan yang jelas dan sama setiap harinya agar anak tahu apa yang harus dia harapkan setiap hari. Misalnya, tentukan jadwal anak bermain, makan, waktu  tidur yang baik untuk anakdan waktu belajar pada jam dan urutan yang sama setiap harinya. Cara ini akan menjadi cara mengajarkan disiplin pada anak dengan efektif.

  1. Ketahuilah hal yang Perlu Dipersoalkan

Tidak semua hal bisa dipersoalkan pada kasus anak yang hiperaktif. Hal ini karena sering kali anak tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Anda akan merasa lelah apabila setiap hal menyimpang yang dilakukan anak menjadi masalah buat Anda, jadi pilihlah isu-isu yang benar-benar sangat penting yang dapat menjadi alasan bagi Anda untuk memberi konsekuensi kepada anak. Misalnya, tidak perlu marah berlebihan ketika anak memecahkan gelas secara tidak sengaja, namun jika anak membahayakan keselamatannya sendiri, Anda perlu memberikan konsekuensi tersebut. Membuat anak mengetahui konsekuensi perbuatannya sendiri adalah cara mudah mendidik anak untuk minta maaf ketika dia sudah mengerti akibat dari perbuatannya sendiri dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi orang lain.

  1. Berikan Instruksi Secara Detil

Anak dengan gangguan hiperaktif akan sulit memahami ketika kita memberikan tugas yang banyak. Sebaiknya pecahlah tugas menjadi bagian yang kecil-kecil. Jangan ragu untuk merinci sampai ke bagian terkecil dari tugas yang Anda berikan kepada anak agar anak dapat mengikuti langkah-langkahnya dengan benar. Metode seperti ini dapat membantu anak untuk fokus mulai dari hal-hal yang kecil dan mengingat apa yang harus dia lakukan pada suatu waktu. Catat semua instruksi detil dalam sebuat buku tulis atau note yang dapat dilihat anak kapan saja. Cara ini tentu saja baru bisa dilakukan ketika anak sudah bisa membaca.

  1. Usahakan Suasana yang Tenang

Ketika sedang memberikan suatu tugas kepada anak pastikan bahwa suasana sekitar tempat anak mengerjakan tugasnya minim gangguan. Beri anak tempat yang tenang agar ia bisa berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya. Bila perlu, beri tahu anggota keluarga yang lain untuk tidak mengganggu anak saat itu sampai ia selesai melakukan tugas yang Anda berikan.

  1. Beri Motivasi Positif

Menyelesaikan tugasnya bukanlah hal yang mudah bagi anak hiperaktif. Penting bahwa Anda selalu memberikan pujian dan dukungan agar anak bisa menyelesaikan tugasnya sebagai bentuk penghargaan dan motivasi untuk anak. Berikan juga reward atau hadiah jika anak bisa menyesaikan tugasnya dengan baik, misalnya menambah waktu bermainnya selama satu hari selama beberapa waktu. Hal ini akan menjadi cara meningkatkan rasa percaya diri anak bahwa dia mampu untuk mengerjakan suatu hal dengan benar.

  1. Buatlah Daftar Tugas Anak

Anak yang sulit fokus atau berkonsentrasi seperti anak hiperaktif harus selalu diingatkan tentang apa saja aktivitas mereka sehari-hari dengan jadwal yang teratur. Jika tidak, kehidupan anak-anak hiperaktif akan cenderung bermasalah dan kacau serta tidak teratur dalam kesehariannya. Anak akan tetap bergerak dan melakukan sesuatu tanpa tujuan. Anda bisa membantu anak membuat daftar tugas yang harus diikuti anak setiap hari lengkap dengan jam serta berapa lama waktu yang diperlukan untuk melakukan tugas tersebut. Biarkan dia menentukan beberapa tugas rekaannya sendiri untuk dikerjakan.

  1. Beri Waktu Untuk Bermain

Anak yang hiperaktif memerlukan banyak gerak untuk melampiaskan energi serta keingintahuannya. Karena itu perlu adanya waktu bermain di luar yang dijadwalkan setiap harinya bagi anak-anak ini, baik itu di rumah maupun di sekolah. Beri anak kesempatan untuk mengeluarkan energi dan keinginannya bergerak.

  1. Gunakan Pengetahuan Tentang Anak

Tidak ada cara yang baku untuk mendidik akan yang hiperaktif, karena itu orang tua dapat menggunakan pemahamannya tentang anak untuk menciptakan cara yang sesuai ketika mendidik anak yang hiperaktif. Di sinilah pentingnya orang tua tahu cara mengenali karakter anaknya sendiri sehingga dapat menentukan celah-celah yang dapat digunakannya untuk mengatasi anaknya yang hiperaktif. Mengenali karakter anak juga dapat menjadi cara membuat anak lebih terbuka kepada orang tua.

  1. Atur Asupan Makanan Anak

Beberapa penelitian menyatakan bahwa sepertinya ada hubungan antara anak yang hiperaktif dengan asupan makanannya. Anak-anak yang mengalami gangguan perilaku disarankan untuk menjauhi makanan manis, mengandung pewarna buatan, penyedap rasa, dan juga yang mengandung tepung atau gluten. Menghindari semua makanan ini tidak akan membuat anak mengalami tanda tanda anak kurang gizi, selama orang tua konsisten menyiapkan makanan sehat untuk tumbuh kembang anak.

  1. Jangan Menghukumnya

Menghukum bukanlah cara untuk mendidik anak hiperaktif, terlebih lagi jika sampai menggunakan hukuman fisik. Untuk membuat anak menyadari bahwa perilakunya tidak dapat diterima, orang tua dapat memperkenalkan konsekuensi kepada anak. Misalnya, jika anak melakukan hal yang melanggar peraturan maka konsekuensinya ia akan kehilangan waktu bermain atau menonton tv selama beberapa waktu tertentu.

  1. Konsisten

Ketika sudah menetapkan konsekuensi untuk anak, orang tua perlu bersikap konsisten dengan bersikap tegas dan menegakkan peraturan tersebut tanpa kecuali, agar anak tidak menemukan celah untuk membangkang atau membantah.

  1. Jangan Terburu – buru dengan Obat

Memang ada pengobatan untuk anak yang mengalami gangguan hiperaktif, namun sebaiknya orang tua tidak terburu-buru memberi obat kepada anak dengan tujuan mempermudah mengasuh anak yang hiperaktif. Sebaiknya dilakukan pendekatan melalui perbaikan perilaku anak terlebih dulu sambil tetap mengamati perubahan pada tingkah laku anak, apakah ada kemajuan yang berarti atau tidak.

Walaupun kerap kali tingkah anak-anak membuat orang tua pusing, namun itu bukan berarti si anak termasuk anak yang hiperaktif. Sebaiknya sebelum memberi cap apapun kepada anak, cermati lebih dulu apakah memang anak memiliki ciri-ciri anak hiperaktif ataukah dia hanya seorang anak biasa yang punya rasa keingintahuan tinggi sehingga diwujudkan dalam perilaku yang aktif. Ketika melihat beberapa ciri pada anak, jangan langsung memvonisnya sendiri. Jika perlu, lebih baik mintalah bantuan psikolog anak untuk mengenali minat dan bakat anak sehingga orang tua dapat mengarahkan anak dengan lebih baik.

 

Sumber:

Retno, D. (2017). Ciri-ciri Anak Hiperaktif – Penyebab dan Mengatasinya. Diakses dari http://dokteranak.org/ciri-ciri-anak-hiperaktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *