KEGIATAN BERMAIN ANAK BERDASARKAN PERKEMBANGAN DAN KEGEMARAN

 

A. Penggolongan kegiatan bermain anak berdasarkan dimensi perkembangan

Penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan anak menurut Gordon dalam Moeslichatoen (2004:37) dibagi dalam 4 golongan yaitu: “ Bermain secara soliter, bermain secara parallel, bermain secara asosiatif, dan bermain secara kooperatif”. Bermain soliter artinya bermain sendiri tanpa teman. Bermain parallel artinya  kegiatan bermain yang dilakukan sekelompok anak dengan menggunakan alat permainan yang sama, tetapi masing-masing anak bermain sendiri. Bermain Asosiatif artinya anak bermain dalam permainan yang  sama tapi tidak ada peraturan. Sedangkan bermain kooperatif adalah Masing-masing anak memiliki peran tertentu guna mencapai tujuan bermain. Anak-anak dari kelompok usia akan menunjukan tahapan perkembangan bermain sosial yang berbeda-beda.

Penggolongan kegiatan bermain tersebut diatas dilakukan oleh anak-anak sesuai dengan perkembangan anak secara fitrah. Penggolongan tersebut merupakan tahapan-tahapan perkembangan bermain anak. Anak dapat bermain sendiri dengan bimbingan orang tua atau guru, permainan saling meniru dengan teman, bermain bersama dengan permainan yang mengandung unsur kompetisi. Perkembangan kecerdasan personal anak sangat dirasakan manfaatnya.

Dalam proses permainan terdapat unsur aturan-aturan yang harus ditaati, mengerti orang lain, toleransi, kerjasama dan persahabatan. Oleh karena itu melalui permainan anak dapat dirangsang dan dilatih kecerdasan personalnya karena anak dapat berinteraksi sosial dan berempati.

B. Kegiatan bermain anak berdasarkan kegemaran

Kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak, dibagi menjadi 4 macam, yaitu:

  • Bermain bebas dan spontan
  • Bermain Pura-pura, dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk:

Minat pada personifikasi (bicara pada boneka atau benda-benda mati), bermain dengan menggunakan peralatan (minum dengan menggunakan cangkir kosong, dll), dan bermain pura-pura dalam situasi tertentu, misalnya situasi dalam keluarga, tempat praktek dokter,dan sebagainya). Pola bermain pura-pura merupakan permainan untuk mengembangkan imajinatif anak yang sangat unik, bahkan terkadang kurang difahami oleh orang dewasa. Oleh karena itu sebaiknya orang dewasa disekitarnya dapat lebih faham dan mengembangkan secara maksimal kemampuan anak dalam berimajinasi tersebut.

  • Bermain dengan cara membangun dan menyusun.

Bermain dalam bentuk seperti ini sangat baik untuk mengembangakan kreativitas anak Setiap anak akan menggunakan imajinasinya membentuk atau membangun sesuatu mengikuti daya khayalnya. Anak akan merasa bangga dan akan menunjukan kreasinya kepada teman atau gurunya. Membangun dan menyusun ini bukan hanya dengan menggunakan alat bantu (APE-Alat Permainan Edukatif)), akan tetapi bentuk gambar, lukisan (finger painting), meronce, dll, merupakan bentuk lain dari kreatitivitas anak dalam hal membentuk dan membangun.

  • Bertanding atau berolah Raga

Bermain dengan jenis permainan yang mengandung unsur game atau pertandingan, baik juga dilakukan di sekolah. Permainan yang bermakna pertandingan hendaknya dilakukan dengan aturan sederhana dan jelas, dan usahakan tempo permainan tidak terlalu panjang. Berbagai kegiatan bermain yang megandung unsur pertandingan, misalnya belajar mendengar dan menguasai kosa kata, belajar mendengar dan mengapresiasi nada music, permainan yang menuntut penguasaan anak dalam hal menjodohkan (kartu Kuartet, Domino,dll) dan permainan yang menuntut penguasaan koordinasi motorik halus

 

Sumber: Kusbudiah, Y. (2014). METODE PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI MELALUI PERMAINAN. Diakses pada 24 Oktober 2017 dari http://bdkbandung.kemenag.go.id/jurnal/249-metode-pembelajaran-anak-usia-dini-melalui-permainan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *