Pentingnya Lingkungan Menyenangkan Bagi Pendidikan Anak Usia Dini (Menurut Montessori)

Related image

Karakteristik lingkungan menyenangkan dan implikasinya bagi keberlangsungan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia juga menjadi bagian pembahasan. Montessori menganggap lingkungan sebagai kunci utama pembelajaran spontan anak. Dikarenakan anak adalah agen aktif dalam lingkungannya, Montessori menyarankan agar lingkungan di sini hendaknya yang menyenangkan bagi anak dan juga memberi kesempatan bagi perkembangan potensi masing-masing individu. Di samping ada kemudahan akses, penuh dengan tanggung jawab, dan kebebasan bergerak, lingkungan pendidikan anak perlu didesain sedemikian rupa agar terlihat nyata, alamiah, dan indah.

Pada suatu waktu, seorang ibu bertanya kepada anak bungsunya yang berumur lima tahun ketika hendak mengajak si anak ke sekolah (Taman Kanak-kanak/TK).

Ibu : “Adik lebih suka mana, di sekolah atau di rumah?”

Anak : (tidak ada jeda, satu kata langsung keluar dari mulut si anak) “Sekolah…!”

Ibu : “Kenapa bisa gitu?”

Anak : “emmm… emmm….” (sang anak tampak kebingungan memberikan jawaban) Pada kesempatan yang lain, ibu tersebut seperti kesusahan mengajak sang anak ke sekolah.

Ibu : “Adik kok masih tiduran, sudah telat ini. Katanya suka kalau di sekolah?”

Anak : “Aku maunya di rumah saja.” (si anak menjawab dengan muka kusut).

Pada percakapan pertama, terdapat indikasi bahwa anak yang sedang duduk di bangku TK itu senang sekali saat ibunya mengajak ke sekolah. Akan tetapi, terjadi 180 derajat perbedaan kondisi sebagaimana terpapar di percakapan kedua. Mengapa demikian? Di antara alasan yang dapat menjawab setting percakapan pertama adalah: 1) di sekolah lebih banyak teman daripada di rumah, 2) di sekolah ditemukan banyak mainan dibandingkan di rumah, atau 3) di sekolah anak lebih bebas bermain daripada di rumah. Sementara alasan berikut bisa dijadikan rujukan untuk menjawab setting percakapan kedua: 1) si anak sempat mendapati hal yang tidak mengenakkan sewaktu di sekolah, 2) letak sekolah berimpitan dengan jalan raya, sehingga suasananya selalu bising, atau 3) kebosanan melanda anak sebab tampilan sekolahnya monoton.

Pendidikan anak usia dini sebagai bagian dari penerapan pendidikan sepanjang hayat (life long education) merupakan portal utama menuju level pendidikan berikutnya. Jika tidak dikawal dengan baik, efeknya dapat berkepanjangan. Selain melalui perencanaan, pengorganisasian, dan pengevaluasian pembelajaran yang baik, para pengelola PAUD hendaknya juga tidak mengesampingkan keberadaan lingkungan sebagai setting pembelajaran. Lingkungan menyenangkan, menurut perspektif Montessori, memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Accessibility and availability (mudah diakses dan tersedia). Kebanyakan anak menyukai area terbuka yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas individu maupun kelompok. Montessori menganjurkan pula bahwa taman atau area terbuka hendaknya memiliki area tertutup juga, sehingga memungkinkan untuk digunakan anak dalam berbagai cuaca. Organisasi materi atau alat-alat, aktivitas, dan kesibukan lain juga merupakan aspek lingkungan menyenangkan yang menawarkan ketersediaan dan kemudahan akses. Secara umum, tiap-tiap aktivitas memiliki areanya yang mendukung anak untuk bebas memilih.
  2. Freedom of movement and choice (ada kebebasan bergerak dan memilih). Terkait dengan hal ini, guru hendaknya memiliki rasa percaya dan hormat kepada anak. Anak akan bisa menentukan pilihan yang “tepat” jika ia memiliki kesempatan untuk bergerak ke mana pun yang ia suka, dan menemukan apa yang ia butuhkan untuk memuaskan dirinya. Untuk poin kedua ini, Montessori merasa, “…there must be freedom within the prepared environment to develop his physical, mental, and spiritual growth.”
  3. Personal responsibility (penuh tanggung jawab personal). Pemberian kebebasan perlu didukung dengan pelatihan sikap bertanggung jawab kepada anak. Sikap ini bisa dibentuk misalnya dengan melatih seorang anak untuk mengembalikan mainan atau sarana belajar ke tempatnya semula. Anak juga dilatih untuk memiliki kesadaran sosial, yakni kemampuan untuk berbagi dengan sesama.
  4. Reality and nature (nyata dan alami). Model nyata seperti benda 3D (tiga dimensi) dianggap lebih representatif daripada 2D (dua dimensi). Misalnya, penggunaan kerangka tubuh manusia berbentuk 3D akan lebih mudah dicerna oleh anak dibandingkan gambar 2D. Contoh lainnya, keberadaan kubus 3D akan lebih mudah dipahami daripada gambar kubus 2D. Kesan alami akan tampak ketika anak diberikan kesempatan lebih untuk bereksplorasi melalui berkebun, kelas alam, dan segala aktivitas yang bersentuhan langsung dengan alam. Kelas indoor pun akan terlihat lebih alami ketika dihiasi dengan bunga atau tanaman yang asli, bukan buatan.
  5. Beauty and harmony (indah dan selaras). Aspek keindahan bisa diperoleh misalnya dari dekorasi ruangan yang sederhana, artinya tidak berlebihan dan tidak mengalihkan perhatian anak. Sedangkan kesan selaras bisa didapat dari ketepatan. Montessori menyarankan agar ruang kelas tidak terlalu sunyi, tetapi juga tidak ramai atau semrawut. Sebagaimana yang ada di Casa Dei Bambini, ruang kelas bagi anak usia 3-6 tahun di sana dinilai menyenangkan, sehingga anak bisa santai dan merasa seperti di rumah sendiri.

Image result for pendidikan anak usia dini montessori

Montessori mencirikan lingkungan menyenangkan itu dengan ketersediaan dan kemudahan akses, kebebasan bergerak dan memilih, penuh tanggung jawab personal, nyata dan alami, serta indah dan selaras. Implikasinya, perlengkapan di PAUD sebaiknya tidak sulit dijangkau anak dan selalu ada ketika dibutuhkan. Anak juga tidak seharusnya dibiarkan merasa terkungkung dalam ruangan yang serba terbatas. Luangkan waktu bagi anak untuk bersinggungan dengan dunia nyata dan alami, bukan bentukan manusia yang terlempar dari kesan natural, apalagi abstrak. Biarkan anak melatih kemandirian dan tanggung jawabnya, yaitu jauh dari intervensi yang tidak perlu dari orang dewasa. Tempat belajar yang sederhana, indah, dan selaras lebih baik bagi anak, daripada tempat yang glamour atau dipenuhi dengan gemerlapnya hiasan.

Sumber :  M. Agung Hidayatulloh Universitas Terbuka UPBJJ Surabaya dalam Jurnal Pendidikan

http://bit.ly/2gxkiD7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *